Asian Games 2026 Resmi Ditutup, China Juara Umum dan Indonesia Peringkat 16
Asian Games 2026 Aichi-Nagoya resmi berakhir. Upacara penutupan digelar di Mizuho Park Athletic Stadium, Jepang, Minggu (4/10/2026), dalam acara berdurasi sekitar 90 menit.
“Saya menyatakan Asian Games Aichi-Nagoya resmi ditutup,” kata Presiden Dewan Olimpiade Asia (OCA), Sheikh Joaan bin Hamad Al Thani.
Meriah dengan nuansa Nagoya
Upacara penutupan menampilkan pertunjukan budaya bertajuk “Hearts Beating as One with Athletes”. Penonton disuguhi tarian bon-odori, lagu “Matsuken Samba II” yang menonjolkan pesona Nagoya, serta pertunjukan laser bersama para seniman musik dan tari dari Nagoya.
Panggung heksagonal yang dihiasi lampion menjadi pusat acara. Parade atlet dan tayangan momen-momen terbaik selama Asian Games juga mewarnai malam penutupan.
Estafet ke Doha 2030
Salah satu momen penting adalah penyerahan bendera OCA kepada tuan rumah berikutnya, Doha, Qatar, yang akan menggelar Asian Games 2030. Bendera diterima Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani.
Qatar juga menampilkan pertunjukan dengan konsep “Al Makan Makanukum” atau “Tempat Ini Milikmu”. Atlet lompat tinggi juara dunia dan Olimpiade asal Qatar, Mutaz Barshim, tampil di tengah panggung, sementara penunggang kuda Jassim Al Kuwari membawa bendera OCA di atas kuda.
China juara umum 12 kali beruntun
China kembali menegaskan dominasinya. Mereka menjadi juara umum untuk ke-12 kalinya secara beruntun dengan 169 emas, 89 perak, dan 83 perunggu, total 341 medali.
Tuan rumah Jepang menempati posisi kedua dengan 83 emas, 95 perak, dan 91 perunggu. Korea Selatan berada di posisi ketiga dengan 39 emas, 43 perak, dan 68 perunggu.
Klasemen akhir 10 besar
- 1. China: 169 emas, 89 perak, 83 perunggu (341)
- 2. Jepang: 83 emas, 95 perak, 91 perunggu (269)
- 3. Korea Selatan: 39 emas, 43 perak, 68 perunggu (150)
- 4. India: 21 emas, 27 perak, 37 perunggu (85)
- 5. Uzbekistan: 21 emas, 25 perak, 24 perunggu (70)
- 6. Iran: 19 emas, 18 perak, 15 perunggu (52)
- 7. Thailand: 18 emas, 13 perak, 21 perunggu (52)
- 8. Kazakhstan: 12 emas, 24 perak, 48 perunggu (84)
- 9. Hong Kong: 11 emas, 19 perak, 24 perunggu (54)
- 10. Bahrain: 11 emas, 5 perak, 6 perunggu (22)
Secara keseluruhan, ada 470 medali emas, 469 perak, dan 629 perunggu yang diperebutkan, dengan total 1.568 medali. Sebanyak 40 negara berhasil meraih setidaknya satu medali.
Posisi negara Asia Tenggara
Thailand menjadi negara Asia Tenggara terbaik dengan menempati peringkat ketujuh. Malaysia berada di posisi ke-11 dengan 9 emas, 7 perak, dan 16 perunggu.
Indonesia finis di peringkat ke-16 dengan 5 emas, 11 perak, dan 23 perunggu, total 39 medali. Filipina menyusul di posisi ke-17 dengan 4 emas, 9 perak, dan 16 perunggu, sedangkan Vietnam berada di peringkat ke-20 dengan 3 emas, 3 perak, dan 19 perunggu.
Catatan Indonesia
Meski peringkatnya belum tinggi, Indonesia melampaui target empat emas yang ditetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir bersama Chef de Mission Todotua Pasaribu. Lima emas Indonesia datang dari bulu tangkis beregu putra, ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, lifter Rahmat Erwin Abdullah, pemanjat tebing Desak Made Rita Kusuma Dewi, dan pemanah Nurisa Dian Ashrifah.
Beberapa pencapaian juga mencatat rekor. Rahmat Erwin Abdullah memecahkan rekor dunia di angkatan clean and jerk dan total angkatan. Desak mencatat waktu 6,062 detik di nomor speed putri, yang menjadi rekor Asian Games sekaligus rekor Asia.
Dari sisi jumlah, 39 medali juga lebih banyak dibanding raihan Indonesia di Asian Games 2022 yang berjumlah 36 medali.
Momen paling dramatis bagi Indonesia terjadi di final bulu tangkis beregu putra. Tertinggal 0-2 dari China, Indonesia bangkit dan menang 3-2, dengan Moh Zaki Ubaidillah memastikan kemenangan di partai penentu. Emas itu mengakhiri penantian 28 tahun sejak emas beregu putra terakhir pada 1998. Beberapa hari kemudian, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin menambah emas di nomor ganda putra setelah mengalahkan pasangan China Liang Wei Keng/Wang Chang 19-21, 21-13, 21-18.
Awal perjalanan Indonesia sebenarnya lambat. Hingga 23 September, Indonesia masih berada di peringkat ke-23 tanpa satu pun emas. Emas-emas baru berdatangan pada pekan kedua, sehingga Indonesia mampu memperbaiki posisi hingga akhir pesta olahraga.
India dan kebangkitan Asia Tengah
India finis keempat dengan 85 medali, termasuk 21 emas. Kontingen India dalam upacara penutupan dipimpin atlet menembak trap Neeru Dhanda. Uzbekistan juga tampil impresif di posisi kelima dengan 21 emas, sama dengan India, tetapi kalah dalam jumlah perak.
Pekerjaan rumah menuju Doha
Bagi Indonesia, hasil di Aichi-Nagoya menyisakan pekerjaan rumah. Peringkat ke-16 berada di bawah tiga negara tetangga, yakni Thailand, Malaysia, dan Hong Kong yang secara geografis juga dekat. Banyaknya medali perunggu menunjukkan atlet Indonesia sudah mampu bersaing, tetapi masih perlu didorong agar bisa naik ke perak dan emas.
Peringkat akhir ini juga berbeda dengan posisi Indonesia selama pekan kedua, ketika sempat naik hingga peringkat ke-13 setelah emas panjat tebing. Pada hari-hari terakhir, negara lain terus menambah emas, sehingga Indonesia akhirnya turun ke posisi ke-16 meski jumlah medalinya bertambah.
Empat tahun ke depan, Asian Games akan berlangsung di Doha. Persiapan untuk ajang tersebut, termasuk pembinaan cabang-cabang yang kali ini menyumbang emas seperti bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan, akan sangat menentukan apakah Indonesia bisa naik peringkat di edisi berikutnya.