Martin O'Neill Pastikan Tetap Latih Celtic Meski Tiga Kali Kalah
Martin O'Neill memastikan dirinya tetap menjadi pelatih Celtic. Setelah memanfaatkan jeda internasional untuk merenungkan masa depannya, pelatih berusia 74 tahun itu menyatakan siap kembali memimpin tim.
“Saya siap. Saya sangat siap untuk itu,” kata O'Neill saat ditanya apakah ia siap memimpin Celtic ke depan.
Pekan yang sulit
Keputusan ini muncul setelah Celtic melewati periode berat. Dalam rentang waktu yang berdekatan, mereka menelan tiga kekalahan, dua di antaranya dari rival abadi Rangers.
Kekalahan pertama terjadi di ajang Premier Sports Cup, saat Celtic dibantai Rangers 0-3. Beberapa hari kemudian, Kamis (17/9/2026), Celtic kembali tumbang di kandang sendiri, Celtic Park, saat menjamu Ferencvaros di fase liga Liga Europa. Klub asal Hongaria itu menang 3-1.
Dalam laga melawan Ferencvaros, tim tamu unggul lebih dulu lewat tembakan Bamidele Yusuf yang berbelok setelah mengenai Liam Scales pada menit ke-20. Mika Baur sempat menyamakan skor untuk Celtic pada menit ke-44, tetapi Kristoffer Zachariassen langsung mengembalikan keunggulan Ferencvaros sebelum turun minum. Daniel Arzani kemudian memastikan kemenangan tim tamu pada menit ke-47.
Tekanan semakin besar setelah Celtic kembali kalah dari Rangers dengan skor 0-1 di liga. Tiga kekalahan dalam waktu singkat itu memicu kritik tajam dari berbagai pihak, bahkan ada yang menyerukan agar O'Neill mundur.
“Bukan akhir dunia”
O'Neill mengakui pekan itu sangat sulit, tetapi menolak menganggapnya sebagai bencana. “Kami mengalami pekan yang sulit. Hal itu bisa terjadi, Anda bisa kalah dari rival abadi, Anda bisa kalah di laga Eropa,” ujarnya.
“Ini jelas bukan akhir dunia, seperti yang tampaknya digambarkan. Tetapi (saya) siap untuk melanjutkan,” tambahnya.
Waktu untuk merenung
Jeda internasional memberi O'Neill kesempatan untuk berpikir. Namun, ia mengaku tidak butuh waktu lama untuk mengambil keputusan.
“Saya memang berpikir akan mengambil sedikit waktu, dan ternyata saya tidak butuh banyak waktu untuk memikirkannya,” katanya.
“Itu adalah waktu untuk merenung sejenak dan, ya, ada beberapa hal yang Anda pikirkan. Tetapi secara keseluruhan, saya kembali, saya bersemangat, dan tim sudah siap,” lanjut O'Neill.
Target: juara liga
O'Neill menegaskan ambisinya tidak berubah. Ia tetap ingin membawa Celtic menjadi juara liga, sesuai target yang ditetapkan sejak awal musim.
“Saya ingin memimpin klub, saya ingin mencoba memenangi liga, yang memang menjadi tujuan kami sejak awal, dan saya sama bertekadnya sekarang seperti sebelumnya,” ujarnya.
Saat ditanya bagaimana ia menganalisis situasi tim, O'Neill memilih untuk introspeksi. “Saya pikir saya melihat diri saya sendiri terlebih dahulu,” katanya.
Kabar pemain
Di tengah situasi ini, Celtic juga mendapat kabar positif dari ruang perawatan. Jota, yang sedang pulih dari cedera lutut yang membuatnya absen selama 18 bulan, sudah bermain selama 45 menit dalam laga uji coba tertutup melawan Falkirk.
Sementara itu, Hyun-Jun Yang akan menjalani pemeriksaan setelah mengalami masalah hamstring saat bertugas bersama tim nasionalnya. Kondisinya akan menentukan apakah ia bisa tampil di laga berikutnya.
Laga berikutnya: tandang ke Motherwell
Ujian pertama O'Neill setelah keputusan ini adalah laga tandang ke markas Motherwell pada Minggu (11/10/2026). Laga ini menjadi kesempatan bagi Celtic untuk bangkit dan membuktikan bahwa periode buruk sebelum jeda internasional hanya sementara.
Hasil di laga ini akan sangat diperhatikan. Kemenangan bisa meredakan tekanan, sementara hasil buruk akan kembali memunculkan pertanyaan tentang masa depan O'Neill.
Pengalaman yang berbicara
O'Neill bukan nama baru di Celtic. Ia pernah menangani klub ini pada era 2000-an dan meninggalkan kesan mendalam bagi suporter.
Kembalinya O'Neill ke kursi pelatih Celtic terjadi pada musim 2025/2026. Uniknya, ia ditunjuk sebagai pelatih interim sebanyak dua kali dalam satu musim. Pertama, setelah Brendan Rodgers berpisah dengan klub. Kedua, setelah Wilfried Nancy dipecat tidak lama setelah ditunjuk.
Hasilnya luar biasa. Selama masa interim, O'Neill memenangi 19 dari 23 laga Liga Primer Skotlandia yang ia pimpin. Ia juga membawa Celtic menjuarai Piala Skotlandia setelah mengalahkan Dunfermline, sehingga melengkapi gelar ganda domestik musim 2025/2026.
Berkat pencapaian itu, Celtic menunjuknya sebagai pelatih permanen pada Juni 2026 dengan kontrak satu tahun dan opsi perpanjangan satu tahun lagi. Rekam jejak inilah yang membuat manajemen tetap memberinya kepercayaan meski awal musim ini diwarnai beberapa hasil buruk.
Kontras dengan musim lalu juga terasa dalam duel melawan Rangers. Di semifinal Piala Liga musim 2025/2026, Celtic asuhan O'Neill menang 3-1 atas Rangers yang bermain dengan sepuluh pemain lewat perpanjangan waktu di Hampden Park. Johnny Kenny, Callum McGregor, dan Callum Osmand mencetak gol untuk Celtic. Kemenangan itu menjadi kemenangan pertama O'Neill dalam derbi Old Firm setelah lebih dari 20 tahun.
Musim ini, situasinya berbalik. Rangers mengalahkan Celtic dua kali dalam waktu singkat, termasuk kemenangan telak 3-0 di kompetisi piala yang sama. Bagi suporter Celtic, kekalahan dari rival sekota selalu terasa lebih menyakitkan dibanding kekalahan lain, dan itulah yang membuat tekanan kepada O'Neill meningkat tajam.
Di usia 74 tahun, O'Neill menunjukkan bahwa semangatnya belum padam. Keputusannya untuk bertahan adalah pesan bahwa ia ingin menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai, yakni membawa Celtic kembali ke puncak sepak bola Skotlandia.
Suporter Celtic dikenal punya standar yang sangat tinggi. Bagi mereka, gelar liga adalah target wajib setiap musim, dan kekalahan dari Rangers hampir selalu memicu perdebatan panjang.
Kini, semua mata tertuju pada bagaimana Celtic merespons. Dengan pelatih yang menyatakan siap, para pemain diharapkan bisa memberikan jawaban di lapangan, dimulai dari laga melawan Motherwell.